RSS

Arsip Kategori: member kfbi

Cerita Perjalanan Mengenal Indonesia (Pulau Jawa)

Sekitar bulan April lalu, salah satu member KFBI yang bernama Muhammad Adzroi ini, bersama kedua temanya, pergi melakukan perjalanan ke tempat yang sangat ingin mereka kunjungi. laki-laki yang akrab dipanggil  “Atook” ini melakukan perjalanan lintas pulau. yaitu dari Pekanbaru (Pulau Sumatra) menuju ke Madura (Pulau Jawa).

Berikut adalah hasil tanya jawab admin KFBI dengan Muhammad Adzroi tentang cerita perjalananya

 Apa Yang Melatar belakangi munculnya ide melakukan perjalanan tersebut?

Intinya bersilaturahmi dengan kedua teman saya ini. dulu kami sering bertemu, tapi karena kesibukan masing-masing, kami sempat terpisah lama, dan akhirnya bisa berkumpul lagi saat melakukan perjalanan ini. tadinya hendak pergi berempat, tapi karena ada halangan, akhirnya kami pergi bertiga. atook, Rian, dan Suardi

Kemana Tujuan Perjalanan ini?

Tujuan Perjalanan kami adalah ke Pulau Madura. kami sengaja tidak merencanakan rute perjalanan secara detil, supaya sebelum tiba di madura, kami bisa menyusuri beberapa kota favorit seperti jakarta, bandung, Jogja dan solo.

2Atook bersama kedua temanya

Kapan perjalanan ini dimulai? dan kapan berakhir?

Kami berangkat tanggal 27 April 2014 dari pekanbaru menuju Cengkareng, dan pulang kembali pada 5 mei 2014 dari cengkareng menuju pekanbaru.

Dari beberapa tempat yang dikunjungi, tempat yang menjadi favoritmu apa?

Seluruh tempat yang kami kunjungi adalah tempat yang sangat menarik bagi kami. jakarta dengan keangkuhan gedungnya, bandung dengan keramah tamahan masyarakatnya dan suasana malamnya yang sangat indah, Jogja dengan kuliner dan pariwisatanya, Berakhir di madura dimana masyarakatnya sangat perhatian dan ulet dalam bekerja.

1Gedung Sate di malam hari

Ada pengalaman Menarik selama melakukan perjalanan?

pengalaman menarik menurut saya adalah saat berada di madura. bahasa sehari hari masyarakatnya, asing terdengar di telinga saya. biasanya saya dengar logat bahasa ini di Televisi, dan saat itu saya mendengar langsung dari maduranya. Amazing…

Spot Foto mana yang paling bagus menurutmu diantara kota-kota yang kamu kunjungi tersebut?

untuk spot foto yang bagus, menurutku Bandung Juaranya. apalagi saat malam hari, Lighting yang terpancar dari beberapa tempat terbaiknya, menjadi objek yang sangat menarik untuk dipotret.

3Saat berada di Candi Borobudur

Transportasi apa yang digunakan untuk menempuh perjalanan ini?

Semua Transportasi kami gunakan. mulai dari pesawat, bus,Taxi, dan yang paling unik adalah Bajaj biru dari jakarta. transportasi ini tidak kami temui di tempat asal kami, pekanbaru.

Gear/alat apa yang digunakan untuk mengabadikan momen saat itu?

saya menggunakan Canon 550D , dan sebuah Tripod

4Saat menuju Madura

Bagaimana Perasaanmu setelah mengunjungi tempat-tempat tersebut?

Speechless yah… Indonesia ini sungguh luar biasa, saya yakin masih banyak budaya masyarakat indonesia yang perlu saya tahu, masih banyak keindahan alam indonesia yang bisa saya abadikan , dan masih banyak kuliner khas indonesia yang belom saya cicipi. dan inilah kata-kata bijak tentang indonesia yang sangat saya suka.Benarlah kata orang, Indonesia ini bak sepenggal Firdaus di muka bumi.

 

“Tuhan, negeri ini indah.Bantu kami menjaganya” (From: 5cm Indonesian Movie)

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 29, 2014 in blog, member kfbi, Uncategorized

 

Tag: , , , , , , , ,

Cerita Fotografi Ponsel (Seri 2 – Sandi Sutrisno)

image

Post ini ditulis oleh Sandi Sutrisno

Berawal dari edit foto unduhan internet, saya semakin mengagumi keindahan foto yang terlukis dari jepretan sebuah kamera. Sandi Sutrisno nama saya, anak rantau asal kampung kecil di Kabupaten Sukoharjo, Surakarta yang sekarang tinggal di Jakarta.

Mendambakan memiliki handphone berkamera adalah cita-cita sejak mengenal apa itu telepon genggam, hingga akhirnya pilihan jatuh pada Sony Ericsson wt19i. Si soner inilah yang membawa saya mengenal Fotonela dan bergabung dengan KFBI. Dari situ mulailah saya mengenal, belajar, dan memahami fotografi.

Soner dibekali kamera dengan spesifikasi 5 MP, 2592×1944 pixels, autofocus, LED flash, dan bersyukur tahun 2013 ini datang rival Soner, yaitu Samsung Galaxy GT-I8160 dengan spec yang sama. Dari kedua handphone ini saya belajar memotret. Tidak ada teknik khusus, yang terpenting adalah pencahayaan. Jika minim cahaya, bisa menggunakan bantuan penerangan bantuan seperti senter atau yang lainnya, dan mainkan imajinasi. Untuk settingan kamera, saya gunakan mode otomatis dan selalu atur kualitas gambar pada pilihan terbaik (high).

image

Saya lebih suka memotret still life, dimanapun itu. Bisa di rumah, di jalan, di tempat kerja.. Dari sini, ide bermunculan. Memang kadang terlihat aneh saat saya memotret, tapi cuek sajalah. Itu bisa jadi tantangan tersendiri. Mengutip kata-kata pak Alex Webb:

Memotretlah karena kamu mencintainya, dan karena bagimu hadiah terbesarnya adalah proses memotret itu sendiri.

Sering dibilang temen aneh, toh akhirnya setelah mereka tau alasannya malah jadi sering diminta buat motret gaya narsis mereka 😀 Positifnya; bisa coba berbagai merk hape dan kamera. Hehehe…Yang utama, jeli dalam memandang. Kita takkan pernah tahu uniknya benda sekitar kita jika tidak mengubah sudut pandang.Saya mencoba memainkan imajinasi, mencoba lebih dekat, seolah-olah jadi fotografer handal 😀 (ya boleh-boleh saja kan…) Sering melihat foto-foto dari internet, media sosial dan forum-forum online juga membuat pandangan saya lebih terbuka tentang fotografi.

image

Terakhir, untuk menciamikkan tampilan foto, saya lakukan editing sedikit dan lagi-lagi masih lewat handphone. Beberapa aplikasi yang biasa saya gunakan adalah Picsart,Picsay Pro, Aviary, Photo Editor, dan Pixlr Express. Sekedar untuk mempertajam dan memberi efek warna.

Begtulah sedikit cerita dan sharing dari saya Semoga bermanfaat 🙂
Disini saya belajar banyak dari sobat KFBI. Dari foto rekan-rekan semua. Menambah inspirasi buat saya.
Terima kasih dan salam jepret 😀

*Lihat lebih banyak foto-foto Susan yang out of the box di profile-nya atau di galeri flickr-nya.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 30, 2013 in Dari KFBI Untuk Semua, fotografi ponsel, member kfbi

 

Tag: , ,

Cerita Fotografi Ponsel (Seri 1 – Eka Setiawati)

image

Post ini ditulis oleh Eka Setiawati

Hai. Saya Eka, Perawat yang punya hobi motret sejak SMP dan pengguna Ricoh analog waktu SMA. Masuk kuliah bukan jurusan photography, tapi sebagai anggota Sekretariat Mahasiswa selalu dapat bagian dokumentasi yang diterima dengan senang girang – bukan senang hati lagi, apalagi sudah gak perlu pakai kamera yang di-ekrek ekrek, lumayan lebih canggih, habis jepret balik sendiri, meski masih pake rol.

Setelah mulai kerja, 3 tahun hanya pakai kamera HP (Ricoh jaman dulu sudah hilang entah kemana.) HP masih jaman VGA waktu itu, sempat pakai N 73 yg katanya dilengkapi lensa Carl Seizz. Waktu pake HP ini jeprat jepret terus, sampai akhirnya ketemu HP saya yg sekarang: Samsul Ga’ FIT S 5670 alias Samsung Galaxy FIT dengan kamera bawaan 5 MP. Hobi foto makin menggila.

image

Sudah 2 tahun ini saya di temani si FIT buat mengabadikan banyak moment. Dari anak saya umur 2 tahun semua moment terekam.

Desember 2012 saya menemujan aplikasi editing foto di Android namanya PicsArt. Share foto awal seperti biasa, kebanyakan selfie, follow orang a-z jadi tau jenis-jenis foto yang bagus, tertarik sama Macro sejak ketemu Ririez Kelana lewat aplikasi itu, jadi lebih tau lagi bahwa bisa foto Macro pakai HP dengan lensa tambahan (saya pakai yang namanya Oshino.) Semua objek dicoba foto Macro pakai Oshino, ternyata nemu CLICKnya sama embun.

Awalnya mencoba Macro dengan Oshino pakai kamera bawaan HP yg 5MP, tapi ternyata kurang bagus jadinya. Coba aplikasi-aplikasi kamera yang lain, gak ada juga yang cocok. Akhirnya pakai kamera bawaan aplikasi dari PicsArt (resolusinya hanya sekitar 900×1200), ternyata aplikasi kamera inilah yang cocok untuk embun dan macro.

Kamera bawaan PicsArt ini sebenarnya punya settingan ISO dll, tapi saya gak pernah ganti, benar-benar mengandalkan default saat buka kamera itu. Yang namanya ngembun pastinya kudu damai sama tanah kotor… kalau sudah nemu asyiknya, saya sudi bermiring-miring ria demi mendapatkan refleksi yang saya inginkan, biar masuk di dalam embun. Awalnya “mengembun” di taman Rumah Sakit tempat saya kerja, yang pasti refleksinya ya gedung. Baru-baru ini saja belajar refleksi bunga.

image

O iya… setiap habis motret, saya pasti edit dulu biar enak di pandang. Dulu sih pakai PicsArt juga klo ngedit, hanya sebatas cropping, naikin saturasi, kontras, sharpness. Tapi sekarang saya lebih sering pakai aplikasi PicsayPro. Sama sih, hanya sebatas cropping, resize maksimal yg di sediakan PicsayPro, naikin exposure, boost default 50%, sharpness 100, smooth 50, kadang nambahin saturasi meski gak sering.

Demikian sedikit cerita dari saya, semoga bermanfaat 🙂

*nikmati lebih banyak foto-foto ponsel Eka yang indah di halaman grup KFBI dan profilnya

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 24, 2013 in Dari KFBI Untuk Semua, fotografi ponsel, member kfbi

 

Tag: , , , ,

Taut

image

Di usianya yang masih terbilang muda, 23 tahun, Erwin sudah mantap menjadikan fotografi sebagai bagian dari kehidupannya. Menjalani dua profesi; sebagai karyawan swasta di hari kerja dan fotografer di akhir pekan, tentu membutuhkan komitmen tinggi. Tanpa mengesampingkan peran utamanya sebagai suami, calon ayah, dan kepala rumah tangga.

Foto-fotonya menawan dengan editing halus, memberi kesan siap dan lengkap. Seperti sepiring hidangan nikmat yang dihiasi garnish, menarik dan membuat orang ingin ada dalam frame hasil karyanya. Ini yang kemudian menjadi kunci profesionalismenya.

image

Fotografi itu apa menurut Erwin, dan kenapa tertarik mendalaminya?

Fotografi itu menurut saya adalah bahasa peristiwa yang sifatnya universal. Dilukiskan secara visual kedalam sebuah gambar/foto.Fotografi itu mewakili pandangan mata manusia. Tidak terbatas oleh baik atau buruk, benar ataupun salah. Fotografi itu media penyampaian informasi yang bernilai seni.
Saya tertarik mendalami fotografi
karena kecintaan saya terhadap seni visual. Saya ingin mencoba merealisasikan seni visual yang
nyata dan indah melalui selembar foto yang bisa mewakili cerita didalamnya.

Apa sih yang dibutuhkan seseorang untuk bisa menghasilkan foto yang bagus?

Menurut saya, secara sederhana, foto yang bagus adalah yang tidak gampang dilupakan. Orang yang melihat foto tersebut setidaknya butuh waktu lebih dari 10 detik untuk memperhatikan makna dan keindahan dibalik foto itu dan berencana akan melihatnya lagi dilain waktu. Karena itu, untuk memancing orang melihat foto kita dengan waktu yang tidak sekedar lewat tersebut, dibutuhkan kreatifitas. Buat foto kita berbeda, bercerita, dan memenuhi komposisi yang baik dan menarik untuk ditampilkan. Dan jangan pernah gengsi untuk mengedit hasil foto kita karena foto yang “biasa” itu akan sangat mudah dilupakan. Buat foto yang biasa menjadi luar biasa dengan
belajar mengolah warna dan efek-efel tertentu dengan software pengolah foto digital. Saya selalu
menerapkan teori tentang manajemen konstruksi bangunan dalam mengolah foto. Struktur
bangunan yang baik dan pondasi yang kokoh tidak akan ada artinya tanpa proses finishing yang baik.

Genre apa yang dominan dalam foto-foto Erwin? Kenapa suka genre itu?

Saya adalah pecinta fotografi lintas genre. Saya suka semua genre dan tidak pernah mengkotak-kotakkan genre tertentu yang saya jadikan sebagai jati diri saya. Tapi, jika dilihat dari rasa nyaman, saya suka memotret manusia. Bisa berupa potret pasangan dengan kelucuan, keakraban, dan keromantisannya. Foto anak-anak dengan wajahnya
yang lucu dan polos. Model dan fashion. Potret budaya dan kekhasan wajah Indonesia. Atau hanya sekedar candid di keramaian. Banyak ekspresi tubuh dan wajah yang kadang menarik untuk di abadikan.

image

Apa ciri khas foto-foto Erwin?

Terus terang saya sendiri masih mencari ke khas-an dari karya-karya saya. Saya belum menemukan ciri yang bisa membedakan foto saya dengan
karya-karya foto yang lain. Sejauh ini saya masih mencoba mengembangkan hasil-hasil foto saya dengan karakter yang berbeda-beda. Dari beberapa
hasilnya, saya sangat suka foto dengan konsep warna (tonal) yang tidak biasa / tidak sesuai kedaan sebenarnya. Mungkin itu bisa menjadi salah satu ciri khas saya.

Bagaimana Erwin mulai jadi fotografer profesional? Adakah kendalanya saat itu?

Semua dimulai dari hobi dan kecintaan saya pada dunia fotografi dan seni olah digital.
Persisnya dulu, waktu masih di SMA, saya menjadi fotografer bulletin dengan hanya bermodalkan kamera poket. Saya dulu belum faham seperti apa fotografi, DSLR, dan sebagainya. Karena itu saya mulai bermimpi suatu saat bisa memiliki peralatan fotografi sendiri dengan kerja keras saya. Sampai akhirnya saya kuliah, mencoba sedikit demi sedikit kembali mengejar obsesi saya dulu. Mulai belajar memahami fungsi DSLR dengan
modal pinjam teman, sampai akhirnya bekerja, punya penghasilan sendiri dan bisa membeli peralatan fotografi.

Apa saja yang dibutuhkan seorang fotografer untuk mulai berbisnis dengan kemampuan
memotretnya?

Ketahui teknik-teknik dasar dalam fotografi. Pahami dan evaluasi setiap hasil foto kita dengan rutin. mintalah pendapat orang lain tentang foto yang kita perlihatkan tersebut. Kalau orang sudah mulai bisa menerima foto-foto kita, mulailah kearah yang lebih serius. Menabung untuk melengkapi peralatan fotografi yang paling dasar, seperti flash dan lensa. Buat orang percaya pada kemampuan kita. Buatlah portofolio karya-karya kita. Coba cari teman atau saudara untuk dijadikan model foto-foto yang akan kita pamerkan. Setelah mendapatkan konsumen, bangunlah komunikasi yang baik. Berikan bonus gratis yang mereka tidak dapatkan dari fotografer lain. Misalnya, dengan memberikan foto editing yg lebih banyak, video slide show foto-foto mereka, dan tambahan waktu pemotretan jika mereka merasa kurang puas. Dengarkan pendapat mereka, dan buat mereka yakin bahwa foto yang kita hasilkan adalah yang terbaik.

Bagaimana Erwin mengasah kemampuan fotografi?

Saya adalah karyawan swasta yang tidak punya banyak waktu untuk rutin memotret. Saya hanya memiliki waktu luang di hari Minggu. Biasanya, jika tidak ada
aktivitas lain, saya berkunjung ke komunitas-komunitas fotografi disekitar kota tempat tinggal saya. Disana biasanya saya banyak mendapatkan ilmu tentang
fotografi. Dan di hari biasa, saya biasanya membaca artikel-artikel di internet untuk lebih memahami teknik fotografi. Melihat karya-karya fotografer profesional, dan membaca tips dan trick untuk menghasilkan foto yang baik.

Mana yang lebih menentukan kualitas sebuah foto: peralatannya atau fotografernya?

Fotografernya. Kreatifitas seorang fotografer lebih mahal dan bernilai dibandingkan harga lensa dan kamera dengan kualitas terbaik. Fotografer sejati tidak menjadikan peralatan sebagai kendala untuk melahirkan karya-karya yang kreatif dan berkualitas.

Ada tips untuk mereka yang ingin mulai terjun ke dunia fotografi profesional?

Pahami teknik-teknik fotografi. Jangan terlalu bergantung pada kelengkapan peralatan karena itu bisa menjadi hambatan untuk memulai. Perbanyak membaca dan mempraktekkan ilmu yang telah didapat. Jalin komunikasi yang baik dengan teman sekolah, kuliah, kantor, ataupun komunitas. Biasanya mereka lah “pengiklan” gratis yang akan mempromosikan karya-karya Anda.

Tertarik untuk difoto oleh Erwin? 🙂 Kamu bisa temui melalui profil Facebooknya: https://www.facebook.com/erwin.suhendra477

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 27, 2013 in member kfbi

 

Tag: , , ,

Gambar

Oleh-Oleh – bagian 1

Selama bulan September 2013 ini, KFBI mengadakan challenge fotografi tentang oleh-oleh atau ciri khas dari masing-masing kota para anggota KFBI. Akhir minggu ini, kita akan lihat beberapa foto oleh-oleh dari mereka yang mungkin kamu belum pernah lihat atau dengar dan semoga bisa menjadi tambahan pengetahuan 🙂

oleholeh

Searah jarum jam, dari kiri atas:

1. Batik Semarang dari Annisa Cahyaningtyas

“Lunpia, bakpia pathok, dan bandeng presto mungkin terdengar tidak asing di telinga para pendatang atau wisatawan yg berkunjung ke Semarang saat ingin membeli oleh-oleh. Tapi, yang satu ini ga kalah dari sederetan makanan tadi buat buah tangan dari kota Semarang tercinta, yaitu Batik Semarangan.

Mungkin biasanya orang tau batik yang dari Jawa Tengah itu batik Pekalongan, batik Solo, dan lainnya tapi belum tau dan mengenal adanya batik asli dari ibukota Jawa Tengah, yaitu Semarang.

Aku juga baru tau batik semarangan atau batik Semarang akhir-akhir ini. Bermula saat aku diminta adik untuk menemani mencari batik dengan corak asli Semarang atau bisa disebut dengan batik Semarangan. Karena nantinya setiap hari Rabu diminta memakai batik tersebut. Entah karena alasan apa. Mungkin cuma terobosan baru dari kepsek adikku. Tapi ada positifnya sih, dengan program itu jadi bisa memajukan pengrajin batik Semarang.

Ciri khas dari batik Semarangan ini adalah motifnya, yaitu Gedung Lawangsewu, Tugumuda, burung srondol, dan beberapa motif yang jadi ciri Semarang.

Nah, ini adalah foto beberapa koleksi batik adikku, dan yang batik Semarang cuma satu – yang paling kanan (yang paling terang) dengan motif Tugumuda dan burung srondol. Jadi, jangan lupa beli oleh-oleh batik Semarang yaa kalo mampir ke kotaku :)”

2. Pecel Nganjuk dari Endra Widoyoko

“Sapa yang tidak kenal nasi pecel? Ini adalah salah satu oleh-oleh khas dari kota angin Nganjuk. Meskipun pecel juga banyak di daerah Madiun dan Kediri, tapi ini yang paling top di Nganjuk. Cocok untuk oleh-oleh. – Jatitengah, Rejoso-Nganjuk.”

Menurut Endra, harga seporsi pecel Nganjuk ini hanya 3 ribu rupiah saja! Harga yang sangat murah untuk makanan sekomplit dan seenak ini yang sudah tidak bisa didapat di kota besar. Tempe mendoannya sungguh menggoda, ya?

3. Jembatan Ampera dari Tjak Kris

“Jembatan ini maskot kota yang terkenal dengan wisata kulinernya yang membentang dari ilir ke ulu (sebutan orang Palembang untuk daerah sebelum dan sesudah Sungai Musi.) Jembatan yang luarbiasa buatan arsitek yang top. Dahulu, bagian tengah jembatan ini bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa melintas dan singgah di pelabuhan. Namun, karena usia, sekarang tidak dapat digunakan lagi. Bagian mesinnya terletak pada tiang bagian atas. Jembatan Ampera adalah salah satu ikon kota Palembang sekaligus oleh-oleh dari saya.”

4. Wingko Babat dari Historida Bayu

“Ya, ini yang namanya wingko babat. wingko adalah kue yang terbuat dari bahan dasar kelapa. Sebenarnya wingko babat itu di ambil dari nama kota yaitu Babat, jadi wingko itu sendiri nama kuenya dan babat itu adalah sebuah kota kecil yang ada di Semarang. Maka dari itu Wingko Babat terkenal dari Semarang. Wingko babat sangat cocok di santap pas masih hangat dan ditemani dengan teh manis hangat. Pasangan itu rasanya joss gandos, apalagi diwaktu hujan, haha. Cocok! Ayo, kunjungi Semarang dan belilah makanan tradisional khas Babat ini.”

Wingko babat juga tersedia dalam berbagai bentuk dan varian rasa.

5. Jalan Cihampelas dari Annisa Wulandari

“Salah satu ruas jalan yang paling terkenal dari Bandung adalah Jalan Cihampelas ini. Berjubel toko pakaian terutama yang berbahan jeans. Sekarang sudah super padat, macet, semrawut di jam-jam sibuk. Tapi masih saja jadi daerah yang populer dan favorit untuk wisatawan.

Segala macam ada disini. Baju, makanan, tas, suvenir, sebut saja. Mulai dari kaki lima sampai toko besar. Ada peuyeum, es durian, lumpia basah, keripik oncom, kaos dengan tulisan “Bandung”, dan banyak lagi.

Yang menarik juga adalah desain bangunan tokonya. Semua punya ciri khas mulai dari superhero, king kong, sampai perahu. Jalanannya juga masih teduh oleh pohon-pohon besar. Jadi, semacet-macetnya Cihampelas, belum lengkap berkunjung ke Bandung kalau belum kesini :)”

 

Nikmati lebih banyak foto dan cerita di halaman Facebook KFBI

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 in Dari KFBI Untuk Semua, member kfbi

 

Tag: , , , , ,

Endang Kusnadi & Konsistensi Memotret

pak endang

Ketika seseorang sudah matang di dunia fotografi, ia akan lebih sederhana tentang apa yang dipotretnya. Ia sudah menemukan ciri khasnya sendiri dan mantap akan pilihannya. Pak Endang Kusnadi, salah seorang anggota senior di KFBI, mengajarkan satu hal penting tentang ini, tentang konsistensi saat memotret, tentang mengunjungi ulang tempat-tempat pemotretan tanpa jadi membosankan tapi justru selalu belajar hal baru setiap kalinya. Bagi mereka yang mengikuti perjalanan fotografi beliau pasti sudah sangat hafal dengan pemandangan Waduk Pluit dan Danau Green Cove Bumi Serpong Damai, karena dua tempat ini adalah salah dua lokasi favorit beliau. Foto-foto bulan, sunset dan sunrise juga jadi objek-objek primadona di foto-foto beliau.

KFBI beruntung bisa meminta sedikit waktu Pak Endang untuk ngobrol tentang fotografi.

landscape e 1

Fotografi itu apa menurut bapak?

Hm… pertanyaan mudah… tapi jawabnya susah.. 😀
Definisi subyektif saya tentang fotografi adalah ‘freeze the moment’; ‘catch the event’ dokumentasikan dengan segala emosi didalamnya (kalau ada/bisa)

Sejak kapan mulai memotret? Kamera apa yang pertama kali dipakai?

Awal tahun 80-an. Kameranya dibelikan orang tua sebagai hadiah ulang tahun sekaligus masuk SMA , merk nya Olympus. Tipenya lupa. Kamera entry-level lah. Tapi pada waktu itu tidak sesemangat seperti memotret sekarang saya kira, karena dulu kita berhenti di ‘jepret’ lalu selesai. Post processing diserahkan ke foto studio untuk dicetak. Sekarang sungguh asyik, seluruhnya kita yang kerjakan sendiri. Memotret, proses di photoshop, share di internet.

Apa yang menarik dari fotografi?

Banyak sekali yang menarik. Mulai dari awalnya/persiapannya, lalu prosesnya, hingga hasilnya.

Ketika sudah diputuskan kita mau motret apa, dimana, waktunya kapan dst.
Bahkan untuk datang kembali ke tempat yang sama pada kesempatan yang berikutnya, diusahakan untuk tidak mengulangi rute jalan yang sama. Keuntungannya jelas; syukur-syukur dapat objek baru dlm perjalanan (menuju dan pulangnya) dgn rute baru.

Di tempat tujuan, lokasi boleh sama, tapi moment selalu berbeda. Selalu ada yang baru atau beda untuk ‘diabadikan’.

Nah, dari mulai jalan sampai pulangnya itu kan asyik. Menikmati alam dan lingkungan, situasi nya, keramaiannya, ketemu dan interaksi dengan orang-orang. Banyak hal dapat dipelajari dan syukur kalau bisa bermanfaat bagi orang lain.

Buat saya, fotografi – seperti hobby saya yang lain ; bernyanyi/bermusik dengan kawan2 dekat – bisa melatih kepekaan ‘rasa’ dan belajar mengasah ‘harmoni’. Dan bonus paling berharganya – melalui kegiatan fotografi – jadi melatih dan membiasakan saya agar selalu mensyukuri nikmat Allah. Alhamdulillah…

Apa objek favorit pak Endang dan kenapa?

Tidak ada yang spesifik. Semua hal tentang alam dan peristiwa saya coba explore. Terlalu luas untuk dijabarkan.

Apa yang membuat sebuah foto jadi bagus menurut bapak?

Hmm… apa ya? Mungkin ‘Point Of Interest’ nya? Kalau kita bisa temukan sesuatu yang “WOW” dalam foto itu. Saya tidak yakin, karena ini soal ‘rasa’ (mengutip Arbain Rambey). Apabila kita bisa melakukannya, seluruh teori fotografi tentang Rule of Third, dead centre, komposisi… tidak akan dibahas lagi.

landscape e 3

Mana yang lebih berperan: bakat atau teknik?

Pada mulanya adalah teknik; penguasaan tentang batas kemampuan peralatannya, bagaimana cara eksekusinya, dan seterusnya, kemudian baru bicara bakat.
Tapi tunggu..
Bakat yang besar akan menentukan tentang mudah/sukarnya mencapai sesuatu.

Nah ini hal yang akan jadi debat saya kira, seperti telur atau ayam, mana yang muncul duluan.

Bagaimana menguasai fotografi di cahaya rendah seperti yang pak Endang sering lakukan

Fotografi di cahaya rendah itu pasti rentan goyang, karena dia cenderung menggunakan speed yang sangat rendah. Jadi tips-nya:

  • saya usahakan menggunakan bantuan tripod,
  • dengan AV yang saya inginkan – saya pakai ‘live view’ untuk mempermudah eksekusi,
  • kalau lewat viewfinder, saya usahakan metering agar tetap di tengah,
  • jangan lupa pake timer kalau belum punya remote switch supaya kamera stabil.

Lensa apa yang jadi favorit bapak?

Sekarang saya sedang senang meng-explore lensa Canon-EF-S-55-250mm, lensa yang best value for money buat saya. Buat motret sunset/sunrise lumayan memuaskan, candid ok, serangga ok.

Ada pesan untuk para fotografer pemula?

Nasi goreng saja deh sama es jeruk 😀
Saya juga pemula, masih harus banyak belajar. Saya pegang DSLR efektif baru 4 bulan (sejak Mei 2013). Sebelumnya pakai Kamera handphone saja. Mungkin yang penting adalah; semangat belajar yang tinggi, kerjakan dengan sepenuh hati, jangan malu bertanya, dan jangan pelit ‘berbagi’.

landscape e 2

Nikmati lebih banyak keindahan alam dari lensa Pak Endang, disini.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada September 20, 2013 in member kfbi

 

Tag: , , , ,

Pipit dan Fotografi Ekspresif

DSCF0731

Perempuan mungil yang akan kita kenal lebih dekat hari ini adalah Fitrya Nurbaity atau lebih sering dipanggil Pipit di KFBI. Mereka yang bergabung di grup Whatsapp-nya KFBI pasti sudah sangat akrab dengan si feminin ini karena dialah adminnya. Lahir di Bandung dan sekarang tinggal di Tasikmalaya, Pipit adalah gadis Sunda yang sangat menyenangkan.

Sekarang, ayo kita dengar apa kata Pipit tentang hobinya memotret.

Apa itu fotografi menurut Pipit?

Buat aku, fotografi itu seperti media ekspresi. Karena orangnya cenderung cuek, jadi lewat foto lah aku mengekspresikan diri dan rasa. Misalnya, waktu aku bahagia maka foto-fotoku akan penuh warna, tapi saat sedih aku cenderung memotret dalam B&W.

Sejak kapan tertarik memotret dan kenapa?

Sejak tahun lalu, sesudah punya kamera digital pertama (Fujifilm Fx-JV 250) dengan tabunganku sendiri. Juga sejak ikut lomba Indosat Photohunt 2013 dan masuk 30 besar. Setelah itu mulailah lebih rajin memotret supaya hasilnya makin baik.
Kenapa suka? Ya karena suka aja. Terutama kalau pergi ke tempat baru, wajib ada fotonya supaya ada kenangan yang bisa disimpan.

salah satu portrait hasil bidikan Pipit

salah satu portrait hasil bidikan Pipit

Apa kesulitan yang pipit alami waktu belajar fotografi dan bagaimana mengatasinya?

Yang paling sulit itu soal angle atau sudut pengambilan gambar. Mengatasinya tentu dengan banyak bereksperimen sampai akhirnya didapatkan sudut yang pas dan bagus.

Dari semua genre fotografi, mana yang paling Pipit suka dan kenapa?

Untuk sekarang, portrait dan still life adalah yang paling aku suka. Karena, menurut aku, objek portrait tidak sulit dicari dan propertinya bisa memanfaatkan yang ada di sekitar. Sementara untuk still life, aku lebih banyak memotret mainan. Nantinya aku berharap bisa juga lebih mahir di fashion photography.

gaya still life favorit Pipit yang memanfaatkan mainan-mainan koleksinya sebagai objek

gaya still life favorit Pipit yang memanfaatkan mainan-mainan koleksinya sebagai objek

Sejak kapan bergabung dengan KFBI?

Sekitar awal 2013. Waktu itu sudah lebih dulu kenal dengan Rizal, founder KFBI, dan sering lihat posting tentang KFBI di timeline-nya. Setelah bertanya-tanya akhirnya bergabunglah dengan komunitas ini.

Apa yang bermanfaat dari grup ini buat Pipit?

Yang pasti, manfaatnya banyak buat aku pribadi, sebagai pemula di dunia fotografi. Seperti, aku jadi tahu tentang berbagai genre fotografi, editing, dan senang bisa diskusi dengan teman-teman yang mengerti soal dunia foto-foto ini. Juga, cuma di KFBI ini, aku bisa memotret sekaligus bercerita.

Terakhir, ada pesan untuk para pencinta fotografi lainnya?

Kalau kamu suka memotret, memotretlah dan belajar terus. Karena kita tidak akan pernah tahu, mungkin foto yang kita buat bisa menyenangkan untuk orang lain.

 

Lihat lebih banyak foto-foto Pipit dan baca tulisan-tulisan inspiratifnya di http://decemb.blogspot.com

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2013 in member kfbi

 

Tag: , , ,